Tuesday, February 10, 2009

Tapanuli

Ketika saya masih murid SD di Tarutung akhir tahun 70-an hingga awal tahun 80-an terdengar bisik-bisik teman: “Tapanuli akan diusulkan jadi daerah khusus”.
_____“Ndaong...! gabe Propinsi Tapanuli do di surat di Koran SIB” sanggah yang lain.
______Sebagai kanak-kanak di daerah tertinggal, saat itu kami gembira sekali mendengar rencana pembentukan Propinsi Tapanuli itu. Sekarang pun saya masih senang dengan rencana itu.

Dahulu, G.M. Panggaben adalah salah satu nama yang paling menonjol disebut-sebut sebagai tokoh pembentukan propinsi tersebut.
______Oh ya... G.M. Panggabean yang mendirikan Universitas Sisingamangaraja sekitar tahun 79 itu tidak lama kemudian menerima gelar Doktor Honoris Causa dari salah satu Universitas di Amerika Serikat. Kemudian dengan antusias G.M. Panggabean membiayai beberapa kali pesta Rakyat di Tarutung yang menghadirkan penyanyi ibukota: Hetty Koes Endang, Koes Hendratmo, Hakim Tobing dll.
______Kemudian (atau sebelumnya) terbentuk Lembaga Adat Sisingamangaraja XII di berbagai tempat di Sumatera Utara. Sekaitan dengan itu didirikan monumen Sisingamangaraja XII di Medan yang dibiayai oleh sumbangan masyarakat. Dalam kehadiran Lembaga dan pembangunan monumen itu terjadi juga percekcokan sebagai dinamika organisasi.
Bagaimana sikap organisasi lain dengan kehadiran Lembaga Sisingamangaraja? Sikap Pemerintah atau sikap Gereja misalnya?
______Saat itu pemerintahan “mono-partai”. Selama Golkar bisa memanfaatkan dan dimanfaatkan sebagai kenderaan politik, penguasa ORBA tenang saja. Sementara Gereja sepertinya menganut: religiositas adiaphoron – bahwa lembaga itu bisa jahat tetapi bisa juga baik, tergantung cara perseorangan menyikapi.
______Bisik-bisik rencana Propinsi Tapanuli masih berlanjut: “Akan ada beberapa propinsi di Tapanuli.”
______“Ah...!”

Wednesday, February 13, 2008

Parnonang

Parnonang do bangso batak.

(...)

Hidup dan Kematian

Hidup tidak lebih berharga daripada kematian.
Lebih baik mati untuk sesuatu, daripada hidup "for nothing".
-------
Manusia itu lebih bernilai daripada deritanya.

Tuesday, January 29, 2008

Suharto Akan Tetap Hidup, Sebagai Kasus Historis! [Sebuah Refleksi]

Kemarin di sela-sela diskusi dengan seorang teman mengenai masalah Papua dan Nanggroe Atjeh Darussalam di Stuttgart-Jerman, saya melihat berita berpulangnya Suharto, lewat TV Arte, TV ZDF dan TV ARD. Disebutkan bahwa mantan Diktator/Presiden RI Suharto: a) pada masa pemerintahannya terjadi booming ekonomi, b) pada masa kekuasaannya banyak orang terbunuh/dibunuh, c) politik anti komunis dikembangkannya ketika berkuasa, d) terpaksa menyerahkan kekuasaannya tahun 1998 - setelah huru-hara massal, dan e) hingga mati tidak berhasil diadili karena ber-alasan sakit.
_____Berita kematian tokoh ASEAN itu ditempatkan, menjelang penutup berita, karena berita terhangat adalah Pemilu [Lokal] Daerah Hessen dan Niedersachsen. Dari perspektif-ku, berita tentang Suharto kemarin tidak positif! Biasa, untuk konsumen Barat.
_____Untuk sementara waktu sebagian orang di Indonesia tidak mau bercerita negatif tentang Suharto. Ini bagian dari kebudayaan/kebiasaan: takut terkutuk, dianggap durhaka, takut kualat/laknat. "Pokokne," Harus menghormati orang tua. Apalagi di masa berkabung keluarga Cendana saat ini. Termasuk Media Massa nasional, menghindar untuk bercerita miring, minimal dengan cara memberi story lain yang juga berita kematian orang lain. Keputusan media yang menghindar sementara inipun sudah luar biasa, patut dijempoli.
_____
"Tentang orang yang sudah mati, ceritakanlah hanya yang baik", demikian pepatah Latin. Betul, kalau dia sebagai manusia, atau sebagai mahluk! Ini sudah dilakukan banyak warga RI, sebagai manusia yang berbudaya dan beragama. Tetapi apabila seorang itu sebagai manusia/tokoh historis, yang [pernah] menentukan sejarah sebuah negara tentu tidak semudah itu, justru tidak baik kalau hanya yang baik saja dibicarakan tentang dia! Analisa historis dan memoris harus terus dikerjakan secara dialektis - bukan dengan maksud negatif atau positif. Walaupun hasil-hasil analisa tidak akan menyenangkan pengikutnya - kalau bukan malah membahayakan. Pembahasan tentang Suharto tidak akan berhenti (tidak akan dihentikan oleh kematiannya, tidak!), apalagi karena dia tidak sempat dengan tenang menjelaskan semuanya di depan pengadilan. Lalu mulailah "pengadilan" sejarah [sebagai ilmu konstruktif] membicarakannya dalam-dalam, lewat kalangan intelektual akademis, para politisi partai dll.
_____
Suharto memang telah meninggal sebagai manusia, tetapi sebagai tokoh dan sebagai kasus, dia akan tetap hidup. Agaknya inilah yang sejak awal digiati banyak penulis kritis di berbagai media dan milis - supaya Kasus Suharto dibahas/dituntaskan. Tema sejatinya bukan sebatas proses: dimaafkan atau memaafkan, tetapi supaya kesalahan yang brutal itu tidak terulang. Mereka/Kita toch tidak dendam kepadanya sebagai sebagai insan ciptaan.
_____Hidup Keadilan! Viva Indonesia! Jaya Sejarah! [Bangun Batubara]

Thursday, January 17, 2008

Konflik di Kenya (Kepentingan UE dan USA)

Konflik politik yang terjadi di Kenya yang diawali dengan ketidak percayaan kelompok oposisi terhadap hasil pemungutan suara pemilihan Presiden, sejak pertengahan Desember 2007 masih berkecamuk hingga hari ini (17/01/08). Konflik ini telah memakan ratusan korban jiwa.

(wait and see...)

Tujuhbelas Sikap Dasar Orang Batak

...
01. Parholong (pengasih)
02. Parasiroha (yang berbelas kasih)
03. Parhobas (yang mau bekerja)
04. Parhusor (yang mau berubah)
05. Pangula (pekerja)
06. Nabasa (suka memberi)
07. Naburju (yang baik)
08. Nabisuk (yang bijaksana)
09. Natingkos (yang jujur)
10. Nahinsa (yang lincah)
11. Namanat (yang berhati-hati)
12. Nanunut (yang gigih)
13. Naradot (yang merawat)
14. Narade (yang ikhlas)
15. Naramot (yang merawat/menjaga)
16. Naringgas (yang rajin)
17. Nadonda (yang teratur)
...

Halo

.
Halo...
(silahkan tinggalkan pesan anda setelah nada berikut: beep!)
Halo,
Saya mau berbicara dengan manusia bukan dengan mesin.
(beep. pesan anda telah terrekam).

Ucch...
Tidak biasa.
.