Saturday, January 12, 2008

Teologi di Media Massa

(Refleksi Atas Tulisan Ioanes Rakhmat)

„Jika sisa-sisa jasad Yesus memang ada di bumi ini, maka kebangkitan (…) Yesus (…) tidak bisa lagi dipahami sebagai kejadian-kejadian sejarah objektif, melainkan sebagai metafora.“ (Ioanes Rakhmat, Harian Kompas, 5 April 2007).

1) Teologi adalah kesempatan untuk memikirkan ulang defenisi orang lain tentang kebenaran. Menarik juga kalau masih ada teolog di Indonesia yang mau berfikir (baca: memakai otaknya) mungkin salah satunya Iones Rakhmat. Banyak orang mengaku diri sebagai teolog, padahal hanya pekerja Gereja „doang“ – kalau tidak mau disebut sebagai rohaniwan.
2) Reformasi Gereja tidak pernah dimulai oleh seorang Paus atau seorang Kardinal atau seorang Uskup, melainkan oleh Professor Teologi. Kasihan melihat kenyataan teologi Kristen di Indonesia, yang hingga kini belum dianggap sebagai ilmu yang penting. Di Amerika Serikat Fakultas teologi ada misalnya Yale University, di Inggris ada misalnya di Oxford University, di Jerman hampir di setiap Universitas Negara. Kalau di Universitas Indonesia belum mungkin dibuka Fakultas Teologi Kristen, minimal ada dua atau tiga orang Professor Teologi di Fakultas Filsafat atau di Fakultas Ilmu Sosial – supaya Ioanes Rakhmat misalnya punya tempat di sana, kalau benar tuduhan bahwa dia tidak OK lagi di STT Jakarta.
3) Kotraversi kebangkitan Yesus bukanlah hal baru dalam sejarah Gereja tetapi dia selalu dibuat seasonal-aktual oleh media cetak. Yang „beruntung“ dengan kontraversi seperti ini adalah Gereja dan Gereja secara tidak langsung selalu berterimakasih kepada setiap kontraversi apapun karena menjadi kesempatan untuk mengingatkan kembali bahwa tantangan iman akan selalu ada.
4) Bila disimak, tulisan Ioanes Rakhmat sama sekali tidak terkesan merugikan Dogma Gereja – dia hanya berusaha melakoni fungsinya sebagai pengajar kajian biblika (Perjanjian Baru). Agak berbeda dengan rekannya dari STT Jakarta, Martin Lukito Sinaga, yang menegaskan kembali dogma Gereja lewat artikel „credo carnis resurectionem“ (aku percaya akan kebangkitan daging - potongan dari kalimat pengakuan iman bahasa Latin) di Suara Pembaruan edisi Paskah. Sayang sekali, bahwa mereka tidak mengeksplorasi pemikiran-pemikiran mereka pada jurnal teologi „Lintas STT“ – yang „dulu“ terbit dengan nama Jurnal PERSETIA. Malah mereka lebih cenderung memilih menampilkan tulisan kepada publik dengan media massa nasional.
5) Apakah iman orang-orang percaya hanya ditentukan oleh kesaksian-kesaksian Alkitab? Apakah wahyu ilahi akan berakhir dengan ditutupnya kanonisasi Alkitab? Bukankah Yesus yang menampakkan diri di Emmaus dan di jalan ke Damaskus masih bisa menampakkan diri pada masa kini dan pada masa mendatang? Jika berita Paskah dianggap sebagai metafora maka sesungguhnya pertanyaan akan Yesus yang historis tidak lagi menjadi pertanyaan inti – yang menjadi inti adalah KERYGMA Yesus. Lagi-lagi, inipun sudah tema lama, Otto Weber, seorag teolog dogmatik yang temasuk Mazhab Barth telah membahas hal ini dalam bukunya: „Die Botschaft der Bibel [The Message of the Bibel]“, (1960 cetakan ke-7).
Selamat Berteologi! [Bangun Batubara]
.