Manfred Lütz – seorang Psikiater, Dokter dan Teolog yang juga dikenal sebagai penasehat Pontifikat berkebangsaan Jerman, menyarankan supaya Gereja sebaiknya memindahkan perayaan natal dari musim dingin ke musim panas.
Alasan yang paling ditekankannya adalah bahaya yang makin mengila akibat “komersialisasi-natal”. Juga maraknya lampu-lampu yang gemerlap – ribuan watt, berkilau-kilau di pusat-pusat perbelanjaan modern maupun di berbagai pasar malam natal tradisional Eropa, yang makin memperlihatkan pemborosan energi, sekaligus sebagai bukti ketidak sadaran akan bahaya perubahan klima kalangan masyarakat Eropa. “Kilauan lampu-lampu itu, sama sekali tidak ada hubungannya dengan kelahiran Yesus Kristus”, tegasnya.
Lamanya gelap dan kedinginan yang sangat terasa hingga ke tulang rahang, secara tradisional-evolusional menghasilkan budaya lilin di Eropa, plus kebiasaan meminum teh atau anggur natal. Kegelapan yang panjang yang biasanya memuncak tanggal 21 Desember tersebut bisa mengakibatkan stress juga depresi, terutama bagi mereka yang kesepian, yang tidak punya sahabat atau keluarga. Maka tidaklah mengherankan kalau kemudian kegemerlapan pusat-pusat perbelanjaan tersebut dianggap sebagai hiburan sambil berbelanja, memilih hadiah-hadiah natal sambil menunggu berlalunya musim dingin yang gelap gulita itu.
Tradisi lain yang juga turut berkembang adalah kebiasaan memberikan hadiah natal kepada anggota keluarga, kepada teman atau sahabat – yang dikemas indah berwarna-warni. “Pada mulanya pasar hanya menyediakan permintaan konsumen, tetapi kini pasar bisa mempengaruhi permintaan mereka,” ujar peneliti dari sebuah Fakultas di Roma.
Ketika seorang wartawan menanyakan Manfred Lütz tentang buku terbarunya berjudul “Gott” (Tuhan) dengan ISBN 3629021581, yang ternyata turut menjadi bagian dari hadiah natal yang cukup diminati. Beliau menjawab, bahwa terbitnya buku tersebut awal musim dingin tahun ini semata-mata kebetulan belaka. “Saya tidak pernah merencanakan supaya buku tersebut dijadikan hadiah natal” sanggahnya yakin. “Justeru itu, natal bukan semata-mata bisnis menjual barang-barang yang dijadikan hadiah natal. Tetapi natal adalah saat untuk merenungkan makna hidup serta saat untuk bersolidaritas kepada sesama” tambahnya.
Hingga kini Gereja belum selera memberikan reaksi resmi terhadap saran pemindahan perayaan natal ke bulan Juni tersebut. [Bangun Batubara]
...
Rujukan 1: http://eins.scm-digital.net/show.sxp/500_bestseller-autor_manfred_l_tz___die_christen_sollten_.html
Rujukan 2: http://www.aref.de/news/mission/2007/weihnachten-verlegen.htm
Rujukan 2: http://www.aref.de/news/mission/2007/weihnachten-verlegen.htm
.