Saturday, January 12, 2008

Barangsiapa menunggu, dialah yang hidup!

Barangsiapa menunggu, dialah yang hidup!

Di dalam hidup ini, yang penting bukan semata-mata siapa seseorang itu, melainkan apa yang dia tunggu. Yang paling menentukan, bukanlah bentuk hidup yang telah ditemukan, melainkan kemungkinan dan kesempatan yang masih terbuka di dalam hidup. Untuk mengenal seseorang – atau suatu organisasi, bukan berarti memeriksa, menjelaskan atau menetapkan masa lalunya secara rinci, melainkan lebih melihat hubungannya dan kedekatannya dengan masa depan.

Pertanyaan: “Sampai Kapan?” agaknya peduli pada waktu – peduli pada “sampai kapan!” Manusia adalah mahluk yang bisa menunggu, tetapi menunggu kelihatannya masih perlu dilatih. Sejak kanak-kanak manusia belajar menunggu, menunggu untuk mengerti arti dari “segera”, “nanti”, “besok”, atau “kelak”. Terkadang manusia harus tarik nafas yang panjang. Manusia yang menunggu tentu akan khawatir, akan takut atau berharap, bukan seperti batu atau patung.

Latihan menunggu sebenarnya dikenal dalam tradisi Gereja, lewat tradisi minggu-minggu “Advent”. Sayang sekali, tradisi Advent telah tercemar dengan perayaan-perayaan Natal yang “lahir prematur”, diawali dengan hiasan-hiasan di pusat-pusat perbelanjaan atau di kantor-kantor dengan “pohon-pohonan Natal” palsu dan ucapan “merry X-mas”. Gereja yang sudah melupakan tradisi menunggu, mungkin sudah berubah menjadi Gereja yang “menguburkan dirinya sendiri”.
Minggu-minggu Advent harusnya menjadi saat yang tepat untuk menyerukan: “sampai kapan?” Ya “Sampai kapan penderitaan kami ini Tuhan?”
Selamat mempersiapkan diri memasuki minggu Adven. [Bangun Batubara]
...