Agama memiliki berbagai defenisi. Sebagian defenisi telah dituliskan secara ilmiah berdasarkan rumpun ilmu-ilmu sosial. Dua defenisi agama dari dua akademisi Jerman diringkaskan berikut.
Theo Sundermeier, Professor emeritus Ilmu-ilmu Agama dari Fakultas Theologi Universitas Heidelberg dan seorang yang pernah lama hidup di Afrika Selatan, Tanzania dan Namibia mendefenisikan agama sebagai berikut: Agama adalah jawaban bersama-sama manusia berdasarkan pengalaman transendens, yang di dalamnya terdapat bentuk ritus dan etos. (“Religion ist die gemeischafliche Antwort des Menschen auf Tranzendenzerfahrung, die sich in Ritus und Etos Gestalt gibt.”)
Karl Marx (1818-1883) dari perspektif filosofis dan anthropologis menyebutkan bahwa agama diciptakan oleh manusia dan bukan agama yang menciptakan manusia. Agama adalah realisasi yang bersifat fantasi dari eksistensi manusia, karena eksistensi manusia tidak memiliki kebenaran yang nyata. Agama adalah candu bagi rakyat. Dia fomulasikan kalimatnya begini: “Der Mensch macht die Religion, die Religion macht nicht den Menschen.” ... “Sie ist die phantastische Verwirklichung des menschlichen Wesens, weil das menschliche Wesen keine wahre Wirklichkeit besitz.” ... “Sie ist das Opium des Volks.”
Tentu masih ada sederetan daftar defenisi agama dari berbagai akademisi. Dua defenisi di atas bisa diperhadapkan dengan dua sikap penganut agama-agama sehubungan dengan status yang mereka inginkan terhadap fungsi agama. Kelihatannya sikap itu juga berlaku bagi warga Gereja. Minimal ada dua kelompok besar yang eksis dalam Gereja - yang masih bisa diamati peneliti agama saat ini.
Kelompok realis
Kelompok „realis“, merupakan sebagian orang yang mengharapkan dan mendorong agar Gereja menjadi motor perubahan bangsa demi kemakmuran rakyat. Ajaran di kelompok ini adalah ajaran pembebasan yang sering disebut dengan teologi liberal. Iman adalah iman yang aktif yang diaktualisasikan lewat perjuangan sosial. Iman tidak hanya difahami sebagai doa, nyanyian, ritus atau sebatas ziarah ke tempat suci melainkan sebagai tindakan nyata di tengah rakyat. Kalaupun orang seperti ini pergi ke tempat suci, dia akan mengatakan: „Di tempat ini telah lahir seorang tokoh pergerakan.“ Di kelompok ini Yesus disapa sebagai saudara, sebagai manusia.
Kelompok ilusif
Kelompok „ilusif“, merupakan sebagian orang yang ingin dan mendorong perubahan, agar pelayanan agama menjadi „candu“ lewat ibadah, doa, nyanyian dan ajarannya. Semua hal yang berkaitan dengan agama diharapkan bisa menjadi jalan keluar „ilusif“ atau sekedar fantasi akan ketidak puasannya terhadap berbagai persoalan hidup dan persoalan bangsa. Penganut kelompok ini tidak bosan-bosannya mengunci diri dan berdoa berhari-hari. Akademisi yang bermazhab pencerahan menyebutkan kelompok ini sebagai kelompok fundamentalis agama.
.
Kedua defenisi tersebut tentunya masih harus diperdebatkan. [Bangun Batubara]
...
Literatur:
...Sundermeier, Theo, Was ist Religion? Religionswissenschaft im theologischen Kontext: Ein Studienbuch, Gütersloh 1999. [357 9026 364]
...Steenbrink, Karel A., Mencari Tuhan dengan Kacamata Barat. Kajian Kritis mengenai Agama di Indonesia, Yogyakarta 1988.
…
...
Literatur:
...Sundermeier, Theo, Was ist Religion? Religionswissenschaft im theologischen Kontext: Ein Studienbuch, Gütersloh 1999. [357 9026 364]
...Steenbrink, Karel A., Mencari Tuhan dengan Kacamata Barat. Kajian Kritis mengenai Agama di Indonesia, Yogyakarta 1988.
…