Saturday, January 12, 2008

Kepentingan di Gereja

(Refleksi atas berbagai pendapat tentang Pesta Jubileum 50 tahun CCA)

Kehadiran Pemerintah, Pejabat, Politisi dan Partai, serta Perusahaan-perusahaan dalam perayaan-perayaan gerejawi sudah terjadi sejak dulu. Pembaca yang budiman tentu lebih mengetahuinya. Sejarah Gereja membuktikan, bahwa sedikit sekali jumlah Gereja yang cukup kuat menentang dan menghindari pengaruh penguasa dan pengusaha – HKBP, CCA, DGD bahkan gereja terbesar di dunia inipun tidak mampu membendungnya. Lexikon yang memuat daftar Paus memberitahu kita bahwa ternyata beberapa kali jabatan Paus “dilayani dan melayani” kelompok saudagar Medici. Ini adalah masa “kelabu” dalam sejarah Gereja.

Masuknya kepentingan saudagar dan politisi dalam politik Gereja makin jitu karena:
1) konflik di antara pekerja Gereja sudah ada,
2) keluarga mereka juga merupakan sebagian dari pekerja Gereja,
3) Gereja pernah menerima dana dari mereka – minimal meminta mereka karena jabatan dan fungsinya hadir dalam perayaan agama. “Interest and Influence” akan dimainkan oleh politisi dan saudagar – bukankah itu profesi dan jalan mereka mencari nafkah?

Reaksi terhadap kepentingan yang dimainkan di Gereja sangat beragam. Ada yang menerima, yang kecewa, yang menentang, yang diam, yang turut terlibat dan lain sebagainya.

Saya adalah bagian dari kelompok orang yang tidak pernah merasa kecewa dengan sikap pimpinan Gereja, sekaligus bagian dari kelompok yang memandang bahwa akhir-akhir ini – terutama pada situasi sulit Nusantara, sesungguhnya tidak satupun Gereja di Indonesia yang masih layak diancungkan jempol kanan, sekaligus tidak satupun Gereja yang layak diberi sumbangan bahkan persembahan lagi. (Begitu juga dengan Negara dan PEMDAnya, sesungguhnya tidak layak diberikan pajak lagi). Tetapi kenapa masih banyak orang yang mengunjungi Gereja, memberikan persembahan, ikut kelompok Paduan Suara, Ikut mengajar Sekolah Minggu? MENGHERANKAN!!!

“The life must go on!” – tentu saja.
Tidak mungkin karena gempa orang tidak membangun rumah, sekolah dan fasilitas lain walaupun gempa susulan pasti akan terjadi lagi – atau karena pesawat terbang sering mengalami kecelakaan maka orang tidak terbang lagi. Nonsense! Tahun 2006 lalu, ketika terbang ke Jakarta dengan Pesawat Lion Air. Karena satu hal saya terpaksa tinggal lebih lama di Pesawat dan melihat pergantian awak kabin. Pilot yang akan melanjutkan penerbangan ke Yogyakarta - dengan gaya bahasa Jakarta, bertanya ke Pilot sebelumnya: “Gimana, mesin pesawat. Cakep?” Mungkin itu pertanyaan standar di antara mereka, tetapi yang mendengar bisa takut. Tapi harus terbang!
Demikian juga dengan Gereja-gereja Batak – sebut HKBP, HKI atau GKPI. Dia masih ada, karena alternatif lainnya sama saja bobroknya – tidak ada yang terlepas dari kepentingan saudagar, politisi dan rohaniwan. Pengunjung ibadah sering tidak tahu – mungkin tidak perlu tahu, apa sesungguhnya yang terjadi dengan pemasukan dan pengeluaran di sana, ata apa yang terjadi dengan politik pemilihan gembala. [Bangun Batunara].
Telah diedit, sebelumnya dimuat pada: http://groups.yahoo.com/group/Orang_Batak
...