Saturday, January 12, 2008

Konflik dan Pembaharuan

Konflik dan Pembaharuan

Sastrawan Komedi Romawi bernama Publius Terentius Afer terkenal sebagai Terenz dari Karthago (kira-kira 185 s.M.) menyebutkan: "Amantium irae amoris integratio est." Diterjemahkan menjadi: Perkelahian di antara mereka yang saling mencintai adalah pembaharuan cinta.
Konflik atau Perkelahian bisa menjadi dasar dari perubahan kalau pihak yang bertikai masih saling mencintai. Barangkali yang menjadi pertanyaan:
1) Kalau ada orang yang tidak mau berdialog, mungkinkah ini sebagai pertanda anggar kuasa atau sebagai pertanda dari perasaan takut kehilangan “sesuatu“.
2) Apakah benar tuduhan orang-orang terpelajar – dari luar kalangan Gereja, bahwa kita kurang mampu memaafkan, akibatnya orang takut mengakui kesalahannya?
3) Adakah perasaan terluka yang tidak bisa disembuhkan? Mungkin ibadah/liturgi kita bisa dirancang menjadi ibadah yang menyembuhkan dan lonceng gereja menjadi lonceng untuk ibadah perdamaian.
Berdialog bukan berarti memberikan pembenaran terhadap teman dialog, tetapi memperlihatkan pengertian (“understanding”). Mengerti orang lain maksudnya mengambil jarak terhadap posisi sendiri tanpa takut kehilangan identitas.
Mudah-mudahan setiap konflik Gereja dibicarakan dalam lingkup cinta kasih, dan kiranya ditemukan mediator netral, yang “tanpa pamrih”. [Bangun Batubara]
...