Karya Achim Sibeth, Mit den Ahnen Leben. BATAK. Menschen in Indonesien, Suttgart 1990, (yang ditulis dengan bantuan Uli Kozok dan Juara R. Ginting), aslinya merupakan katalog Pameran tentang Batak - dengan tema seperti judul buku di atas, kalau diartikan: Hidup dengan leluhur: BATAK. Manusia di Indonesia, di museum Linden Stuttgart, 7-30 September 1990. (18 Tahun yang lalu.)
_____Sibeth mendaftarkan beberapa literatur tentang Batak pada halaman 233-239.
Saya tertarik pada banyak pernyataan pada buku tersebut, salah satunya adalah tentang si Galegale (hl. 79), sbb: Sigalegale tampil pertama sekali di sekitar Balige pertengahan abad ke-19 (Tischelman 1950:8). Penggunaan Sigalegale sangat jarang diteliti oleh orang Eropa, bahkan oleh Pejabat Kolonial dan Missionar yang lama tinggal di daerah itu. Kini Sigalegale [hanya] menjadi atraksi wisata di Samosir. Kenapa hingga kini belum ada penelitian terahadap (filosofi, mitos, memori) Sigalegale?
_____Beberapa waktu yang lalu, Mission, Gereja dan Pemerintah Kolonial mengambil jarak terhadap budaya Batak. Apakah Gereja-gereja Batak hingga kini masih mengambil jarak terhadap "Habatahon"? Pada zaman Sending, warga Gereja yang terbukti mengikuti tortor, kena peringatan. Kini tortor dipakai dalam berbagai pesta Huria, tetapi sering dikatakan: "hatop ma baen hamu, asa sanga na asing manortor!" "Koq gondang sabangunan disuru hatop?"
_____Manusia pada zaman modern – dalam ekonomi yang makin kapitalis ini, tidak bisa lagi menunggu, sesuai "urdot" (ritmus). "Kalau bapak tidak bisa mengirimkan barang itu besok, kami akan cari mitra lain!" Begitulah bisnis kontemporer - yang banyak mempengaruhi mental manusia. Akan teapi hendaklah tortor tidak diminta untuk hatop. Karena tortor itu ritual, bukan semata-mata pertunjukan atau kenikmatan. Tortor punya urutan bermakna dan selalu dibuka dengan "sombasomba" kepada sang numinos, dan penghormatan kepada yang hadir. Adakah orang/Peneliti yang mau meng-ekplore tema ini? Ya, pasti, kita tunggu saja "urdot" mereka.
_____Banyak budaya mengalami krisis, karena yang lama dianggap kolot – tetapi suatu yang baru belum didapatkan. Kelihatannya hal ini dialami orang Batak juga.
_____Peneliti terbaru tentang Batak adalah Christine Schereiber, Sidihoni. Perle im Herzen Sumatras I, Stationen und Bilder einer Feldforschung, TB Verlag, Tübingen 2006. (ISBN 3925882286 atau 978-3925882289).
_____Buku yang dipasarkan 2007 lalu adalah, karya: Helga Petersen/Alexander Krikellis (Ed.), Religion und Heilkunst der Toba-Batak auf Sumatra. Überliefert von Johannes Winkler (1874-1958), Rüdiger Köppe Verlag, Köln 2006. (ISBN 3896454455 atau 978-3896454454)
_____Horas jala gabe. [Bangun Batubara]
...
PS.
_____1) Sibeth menulis Sigalegale dengan "si gale-gale".
...
PS.
_____1) Sibeth menulis Sigalegale dengan "si gale-gale".
_____2) Ada info: bahwa satu keluarga pengusaha Hotel "S" di Tuktuk akan membuka perpustakaan "Libri Library" tahun 2009 mendatang. Salah satu tujuan mereka adalah memberikan kesempatan bagi peneliti untuk membaca literatur koleksi mereka tentang Batak, dan yang lainnya.
_____3) Saya pernah menulis tentang "Histori atau Memori". Kalau dikaitkan dengan Batak, memang orang Batak belum banyak menuliskan Histori (yang sesungguhnya sebuah konstruksi), akan tetapi Batak punya banyak Memori dalam bentuk "turiturian". Ketika masih kanak-kanak di Aeknasia belum ada TV, oleh karena itu menjelang tidur ompung selalu “marturiturian" atau "marhulinghuling ansa".
.