Tuesday, January 29, 2008

Suharto Akan Tetap Hidup, Sebagai Kasus Historis! [Sebuah Refleksi]

Kemarin di sela-sela diskusi dengan seorang teman mengenai masalah Papua dan Nanggroe Atjeh Darussalam di Stuttgart-Jerman, saya melihat berita berpulangnya Suharto, lewat TV Arte, TV ZDF dan TV ARD. Disebutkan bahwa mantan Diktator/Presiden RI Suharto: a) pada masa pemerintahannya terjadi booming ekonomi, b) pada masa kekuasaannya banyak orang terbunuh/dibunuh, c) politik anti komunis dikembangkannya ketika berkuasa, d) terpaksa menyerahkan kekuasaannya tahun 1998 - setelah huru-hara massal, dan e) hingga mati tidak berhasil diadili karena ber-alasan sakit.
_____Berita kematian tokoh ASEAN itu ditempatkan, menjelang penutup berita, karena berita terhangat adalah Pemilu [Lokal] Daerah Hessen dan Niedersachsen. Dari perspektif-ku, berita tentang Suharto kemarin tidak positif! Biasa, untuk konsumen Barat.
_____Untuk sementara waktu sebagian orang di Indonesia tidak mau bercerita negatif tentang Suharto. Ini bagian dari kebudayaan/kebiasaan: takut terkutuk, dianggap durhaka, takut kualat/laknat. "Pokokne," Harus menghormati orang tua. Apalagi di masa berkabung keluarga Cendana saat ini. Termasuk Media Massa nasional, menghindar untuk bercerita miring, minimal dengan cara memberi story lain yang juga berita kematian orang lain. Keputusan media yang menghindar sementara inipun sudah luar biasa, patut dijempoli.
_____
"Tentang orang yang sudah mati, ceritakanlah hanya yang baik", demikian pepatah Latin. Betul, kalau dia sebagai manusia, atau sebagai mahluk! Ini sudah dilakukan banyak warga RI, sebagai manusia yang berbudaya dan beragama. Tetapi apabila seorang itu sebagai manusia/tokoh historis, yang [pernah] menentukan sejarah sebuah negara tentu tidak semudah itu, justru tidak baik kalau hanya yang baik saja dibicarakan tentang dia! Analisa historis dan memoris harus terus dikerjakan secara dialektis - bukan dengan maksud negatif atau positif. Walaupun hasil-hasil analisa tidak akan menyenangkan pengikutnya - kalau bukan malah membahayakan. Pembahasan tentang Suharto tidak akan berhenti (tidak akan dihentikan oleh kematiannya, tidak!), apalagi karena dia tidak sempat dengan tenang menjelaskan semuanya di depan pengadilan. Lalu mulailah "pengadilan" sejarah [sebagai ilmu konstruktif] membicarakannya dalam-dalam, lewat kalangan intelektual akademis, para politisi partai dll.
_____
Suharto memang telah meninggal sebagai manusia, tetapi sebagai tokoh dan sebagai kasus, dia akan tetap hidup. Agaknya inilah yang sejak awal digiati banyak penulis kritis di berbagai media dan milis - supaya Kasus Suharto dibahas/dituntaskan. Tema sejatinya bukan sebatas proses: dimaafkan atau memaafkan, tetapi supaya kesalahan yang brutal itu tidak terulang. Mereka/Kita toch tidak dendam kepadanya sebagai sebagai insan ciptaan.
_____Hidup Keadilan! Viva Indonesia! Jaya Sejarah! [Bangun Batubara]