Ketika saya masih murid SD di Tarutung akhir tahun 70-an hingga awal tahun 80-an terdengar bisik-bisik teman: “Tapanuli akan diusulkan jadi daerah khusus”.
_____“Ndaong...! gabe Propinsi Tapanuli do di surat di Koran SIB” sanggah yang lain.
______Sebagai kanak-kanak di daerah tertinggal, saat itu kami gembira sekali mendengar rencana pembentukan Propinsi Tapanuli itu. Sekarang pun saya masih senang dengan rencana itu.
Dahulu, G.M. Panggaben adalah salah satu nama yang paling menonjol disebut-sebut sebagai tokoh pembentukan propinsi tersebut.
______Oh ya... G.M. Panggabean yang mendirikan Universitas Sisingamangaraja sekitar tahun 79 itu tidak lama kemudian menerima gelar Doktor Honoris Causa dari salah satu Universitas di Amerika Serikat. Kemudian dengan antusias G.M. Panggabean membiayai beberapa kali pesta Rakyat di Tarutung yang menghadirkan penyanyi ibukota: Hetty Koes Endang, Koes Hendratmo, Hakim Tobing dll.
______Kemudian (atau sebelumnya) terbentuk Lembaga Adat Sisingamangaraja XII di berbagai tempat di Sumatera Utara. Sekaitan dengan itu didirikan monumen Sisingamangaraja XII di Medan yang dibiayai oleh sumbangan masyarakat. Dalam kehadiran Lembaga dan pembangunan monumen itu terjadi juga percekcokan sebagai dinamika organisasi.
Bagaimana sikap organisasi lain dengan kehadiran Lembaga Sisingamangaraja? Sikap Pemerintah atau sikap Gereja misalnya?
______Saat itu pemerintahan “mono-partai”. Selama Golkar bisa memanfaatkan dan dimanfaatkan sebagai kenderaan politik, penguasa ORBA tenang saja. Sementara Gereja sepertinya menganut: religiositas adiaphoron – bahwa lembaga itu bisa jahat tetapi bisa juga baik, tergantung cara perseorangan menyikapi.
______Bisik-bisik rencana Propinsi Tapanuli masih berlanjut: “Akan ada beberapa propinsi di Tapanuli.”
______“Ah...!”